Skip to main content

Pengharapan Renung

memang sebaiknya adalah menjadi kuat akan diri sendiri, bergantung hanya akan menyebabkan kekecewaan dalam hati. Berat? memang sangat berat, tapi tak ada harga murah untuk berlian yang mengkilat. karena butuh usaha keras juga untuk mendapatkannya.

sore ini aku tersadar akan satu hal. ketika kita melakukan sesuatu kebaikan dimanapun, kapanpun, bagaimanapun,a papun, kepada siapapun, jangan pernah kita berfikir kalau suatu saat kau akan mendapatkan kebaikan yang sama seperti apa yang sekarang sedang kita lakukan. karena tak semua orang memiliki hati dan prioritas yang sama dalam hidupnya, mungkin kita yang terlalu pede atau terlalu berfikir bahwa dengan perlakuan baik ini nanti akan bisa berimbas pada kita sendiri suatu saat kelak. Hmm, sepertinya itu memang khayalan untuk kota semegah metropolitan ini. saat kau berbuat baik, langsung saja lupakan, dan berdoa supaya kau tidak perlu untuk ditolong seperti kau sedang menolong sekarang, bukan berdoa, semoga jika aku mengalaminya ada yang menolong seperti layaknya aku menolongnya. karena didunia ini tanpa hidayah-Nya dan kasih sayang yang timbul dalam  hati manusia, semua itu tidak akan ada, eits bukan berarti aku mempunyai kasih sayang lebih, aku cuma mempraktekkan apa yang ku pelajari dari emak, tentang rasa peduli.

itu tadi pelajaran pertama, pelajaran yang kedua adalah saat tubuh yang lemah dan keadaan yang memaksa untuk beristirahat ini telah memberiku waktu untuk kembali berkonsentrasi kepada sifat kehambaanku kepada-Nya, saat aku mendapat sebuah pelajaran menarik dari novel Fauz Noor tentang rasa sakit, aku menyimpulkannya seperti ini :
"hidup adalah seni mengolah rasa sakit, entah itu sakit jiwa ataupun raga, jangan pernah menganggap kebahagiaan itu akan datang tanpa rasa sakit, karena menurut saya kebahagiaan itu hanya ada ketika kita bisa mengolah rasa sakit dengan benar, yang nyata itu rasa sakit, jadi bukalah hatimu untuk rasa sakit itu.."

memang, dua hari ini pemandanganku hanya sebatas langit-langit kamar, gordin lusuh, pintu, kalender, papan tulis kecil berisi janji dan semua hiasan kamarku, sangat sempit ketimbang beberapa hari ini yang aku habiskan diberbagai tempat. tapi ada satu hal yang aneh, aku merasakan kelapangan yang sangat ketika aku merasakan sempitnya kamar ini, seperti aku melihat dunia yang luas dan bebas hingga aku bisa berimajinasi seperti apa yang aku mau. ketimbang diluar yang secara kasat mata terlihat luas, tapi imajinasiku sangat sempit, hanya terbatas pada materialisme dan kehampaan. sedangkan dua hari ini, imajinasiku menyelami dengan sangat sangat dalam apa yang sedang aku rasakan, aku lihat dan aku fikirkan. aku seperti menjadikan ruang kamar ini sebagai lahan berimajinasi mendekatkan diri pada-Nya, walau hanya sekedar imajinasi, tapi telah membuat hati ini tenang dan kembali menimbulkan rindu pada luasnya cakrawala ilmu.

semoga ini tak hanya sekedar pengharapan, tapi aku memang akan merasa terlahir kembali setelah masa-masa ini terlalui. 

Depok, 30 mei 2013

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Ketua Angkatan Namanya

Jika kau pernah kuliah atau sekarang sedang kuliah, pasti kau tahu jabatan yang diberi nama “ketua angkatan” ini. memang sih jabatan ini tak setenar ketua BEM, Ketua DPM, atau Ketua lembaga lainnya. Jabatan ini hanya jabatan kultural yang tugas dan wewenangnya tidak tertulis dimanapun, tidak di AD/ART, Preambul, atau undang-undang IKM. akan tetapi jabatan ini akan sangat penting ketika sebuah angkatan mengadakan acara yang tidak punya panitia, atau ketika ada permasalahan yang terjadi. Jabatan yang tidak punya tugas dan wewenang secara tertulis ini menurut saya hanya sebatas abdi, kawulo yang bertugas melayani orang-orang diangkatannya. namanya juga jabatan kultural, ya nggak pernahlah disuruh ngasih sambutan atau tanda tangan seperti ketua lembaga. Tapi jika kita menengok tugas yang di emban oleh mereka yang tidak tertulis itu sangat berat (bagi yang mau mikir). Ya nggak berat gimana, ketua angkatan bertanggung jawab atas angkatannya, jika ada tugas angkatan dia, jika ada permasalah...

Demi Indonesia! : sebuah renungan

Desiran angin berusaha menghempas tubuh yang bagai kerangka berjalan ini, ia memang mampu mnggoyangkan rumput dan menerbangkan sampah yang ada, tapi tidak untuk tubuh ini, mungkin hanya baju yang menempel pada tubuh ini yang agak berkibas. Aku terus berjalan menyusuri jalan setapak menuju halte bis kuning yang berjarak sekitar 200 meter. Ya, seperti biasa hari ini aku pergi ke kampus untuk melanjutkan kewajibanku belajar.Tak perlu waktu lama untuk langkah kaki ini membawaku sampai ke halte. Aku duduk disamping anak kecil penjual koran, mungkin sudah menjadi pemandangan yang biasa diantara kita duduk anak kecil lusuh penjual koran atau tisu. Akan tetapi entah kenapa aku merasakan suatu hal yang berbeda sekarang ketika menatapnya, bayanganku kembali ke satu minggu yang lalu, ke sebuah acara besar yang digagas oleh BEM MIPA UI yaitu MUN (Mipa Untuk Negeri ) 2012, dan salah satu acaranya adalah KIMI ( konfernsi Ilmuwan Muda Indonesia) yang dihadiri oleh ratusan mahasiswa dari berbagai pe...

Bayang Malam

Bayang malam mulai menghakimiku, Ia merasuk dalam setiap jengkal gelap yang ditemukan, Entah dalam pendaran cahaya bintang, Hingga bilik-bilik hati yang kerontang. Aku menanjak dan melihat beringasnya, Mencengkram setiap lentera yang ada disudut-sudut nadi, Mencoba mencari jalan ke kerongkongan, unuk keluar sebagai hembusan, tidak, sebagai semburan api amarahnya, Namun, limbung raga tak mampu goyahkan jiwa, Ia masih tetap menari bersama nurani, berdansa mesra, Mengikuti melodi-melodi permai yang dari tadi terdendang, Manis, Di pojok taman yang yang tak terekam bayang. Aku tetap masih berdiri, bersiap menulis lagi pada kehidupan yang putih, seperti sikap lembar putih tadi pagi, ia tetap putih, bersih, sebersih daun yang terbasuh embun pagi..