Skip to main content

makna



Ibu,
Dalam bodohku, aku ingin bertanya
Menimang kata demi kata,
Merangkainya menggambarkan gamang dalam duka

Apakah kita boleh bertengakar,
Bercakar tangan berebut benar
Membabi buta dengan mata nanar
Walau orang lain bertukar kelakar
?

Apakah kita boleh bertengkar,
Mencari muka dan menang
Hasrat terpuaskan,
Tanpa sadar mulut para fakir menganga lebar
?

Ibu,
Dalam kekanak-kanakanku, sekali lagi mulut mungil ini bertanya,
Mengapa mereka bertengkar atas nama demokrasi,
Merusak sana sini berpedang agama,
Hingga menebas leher hanya untuk derajat dan harga diri
?

Semua terlihat begitu menakutkan,
Air mata mengalir perlahan,
Membasahi abu-abunya hak dan kewajiban,
Mengunci mulut dari kebenaran.

Aku tak lagi berani bertanya padamu, Ibu.
Takut kalau-kalau pedang itu menebas leher kita,
Api membakar rumah kita,
Atau fitnah mengucilkan kita seperti penyakit menular.

Biarlah ku simpan pertanyaan-pertanyaan ini dihatiku,
Karena disanalah tempat paling lapang untuk bertanya :
Apa makna demokrasi?
Apa makna harga diri?
Apa makna agama dalam hidup ini?

Comments

  1. Mungkin memang hanya kepada hati nurani kita bisa berdialog... Jadi ingat kata-kata dari Soe Hok Gie, "Kebenaran yang sejati itu cuma ada di langit dan di dunia ini hanyalah palsu, palsu."

    Ash-shobaruu khoirun min anarkis :)

    ReplyDelete
  2. dan apakah kebeneran juga hanya bisa dilihat seperti kita hanya bisa melihat langit??
    kembali bertanya pada sang nuruani :)

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Ketua Angkatan Namanya

Jika kau pernah kuliah atau sekarang sedang kuliah, pasti kau tahu jabatan yang diberi nama “ketua angkatan” ini. memang sih jabatan ini tak setenar ketua BEM, Ketua DPM, atau Ketua lembaga lainnya. Jabatan ini hanya jabatan kultural yang tugas dan wewenangnya tidak tertulis dimanapun, tidak di AD/ART, Preambul, atau undang-undang IKM. akan tetapi jabatan ini akan sangat penting ketika sebuah angkatan mengadakan acara yang tidak punya panitia, atau ketika ada permasalahan yang terjadi. Jabatan yang tidak punya tugas dan wewenang secara tertulis ini menurut saya hanya sebatas abdi, kawulo yang bertugas melayani orang-orang diangkatannya. namanya juga jabatan kultural, ya nggak pernahlah disuruh ngasih sambutan atau tanda tangan seperti ketua lembaga. Tapi jika kita menengok tugas yang di emban oleh mereka yang tidak tertulis itu sangat berat (bagi yang mau mikir). Ya nggak berat gimana, ketua angkatan bertanggung jawab atas angkatannya, jika ada tugas angkatan dia, jika ada permasalah...

Demi Indonesia! : sebuah renungan

Desiran angin berusaha menghempas tubuh yang bagai kerangka berjalan ini, ia memang mampu mnggoyangkan rumput dan menerbangkan sampah yang ada, tapi tidak untuk tubuh ini, mungkin hanya baju yang menempel pada tubuh ini yang agak berkibas. Aku terus berjalan menyusuri jalan setapak menuju halte bis kuning yang berjarak sekitar 200 meter. Ya, seperti biasa hari ini aku pergi ke kampus untuk melanjutkan kewajibanku belajar.Tak perlu waktu lama untuk langkah kaki ini membawaku sampai ke halte. Aku duduk disamping anak kecil penjual koran, mungkin sudah menjadi pemandangan yang biasa diantara kita duduk anak kecil lusuh penjual koran atau tisu. Akan tetapi entah kenapa aku merasakan suatu hal yang berbeda sekarang ketika menatapnya, bayanganku kembali ke satu minggu yang lalu, ke sebuah acara besar yang digagas oleh BEM MIPA UI yaitu MUN (Mipa Untuk Negeri ) 2012, dan salah satu acaranya adalah KIMI ( konfernsi Ilmuwan Muda Indonesia) yang dihadiri oleh ratusan mahasiswa dari berbagai pe...

Bayang Malam

Bayang malam mulai menghakimiku, Ia merasuk dalam setiap jengkal gelap yang ditemukan, Entah dalam pendaran cahaya bintang, Hingga bilik-bilik hati yang kerontang. Aku menanjak dan melihat beringasnya, Mencengkram setiap lentera yang ada disudut-sudut nadi, Mencoba mencari jalan ke kerongkongan, unuk keluar sebagai hembusan, tidak, sebagai semburan api amarahnya, Namun, limbung raga tak mampu goyahkan jiwa, Ia masih tetap menari bersama nurani, berdansa mesra, Mengikuti melodi-melodi permai yang dari tadi terdendang, Manis, Di pojok taman yang yang tak terekam bayang. Aku tetap masih berdiri, bersiap menulis lagi pada kehidupan yang putih, seperti sikap lembar putih tadi pagi, ia tetap putih, bersih, sebersih daun yang terbasuh embun pagi..