Skip to main content

Selamat Ulang Tahun Bapakku yang Hebat

Hari ini, pria terhebat di seantero jagat raya berulang tahun yang ke-50. Setengah Abad sudah beliau di dunia ini, dan selama itu pula aku selalu kagum dengan segala kisah hidupnya. Ya, Bapakku yang selalu menjadi inspirasiku berulang tahun, kalau kata beliau, ini ulang tahun emasnya, sesuai dengan jawaban tadi pagi, ketika aku mengucapkan selamat ulang tahun kepadanya. Ia menjawab dengan santainya. "Oh iya to? sakit tanggal 27? malah klalen pak'e nek ulang tahun, berarti ulang tahun emas, di kadu putu meneh le masmu, yo mugo-mugo kowe kabeh mengko tetep pada biso guyup rukun tekan tuo", bukan Bapakku kalau tidak pernah mendoakan anaknya disaat apapun,meski saat harusnya ia yang mendapat limpahan doa, harapan beliau adalah melihat kami semua bahagia dan rukun dimasa tua. *insyaallah pak akan saya jaga kerukunan ini*. :)

Dan hari ini, ketika kakakku memberikan kado yang sangat indah, yaitu seorang cucu laki-laki untuknya, dan aku hanya bisa memberinya kado sebuah harapan tentang kuliahku, masa depanku, dan sebuah puisi diabawah ini, memang tak seberapa, tapi inilah ketulusan dan kesungguhanku berbakti kepadamu pak. Semoga aku tak mengecewakanmu, ingin aku bacakan puisi ini dihadapanmu, ya puisi ini :

Pak,
ini anakmu yang sekarang berusia seperlima abad,
yang dulu kau bimbing,
kau ajari membaca huruf abjad dalam pangkuanmu,
sembari mendekap pensil,
dan mengeja satu demi satu.
P-A pa, K-U ku, PAKU
ya, kata itu yang pertama kali bisa ku baca,
saat sang surya menjingga dipelataran barat rumah kita,
ia mengintip tersenyum dari celah celah pohon rambutan yang rindang.
pak, aku kira itu dulu senyuman untukku,
tapi, kebelakang aku menyadarinya,
itu ucapan selamat kepada kita,
yang mampu bersimphoni dalam hak dan kewajiban kita,

Pak,
masih sangat lekat dalam benakku,
kau mengajariku makna hidup,
bagaimana bersikap,
dan bagaimana menjadi seorang lelaki
dalam diam tanpa kata,
hanya dengan segenap tindakan yang aku harus mencari maknanya.
kau begitu lembut,
seperti angin yang berhembus membelai kulit ari,
kadang kau terasa tidak ada, tapi sejatinya kau yang membuatku masih terus bernafas,
masih terus hidup,
dan masih terus belajar mencari makna yang dulu kau ajarkan.

Pak,
masih hangat dalam benakku,
kau mengajariku menendang bola,
kau mengajariku menjadi kiper,
kau mengajariku menjadi striker,
kau mengantarku kepertandingan,
selalu mendukungku,
tak peduli hujan mengguyur tubuhmu dipinggir lapangan.

Pak,
aku masih ingat saat kau menangis pilu dalam baring sakitku,
disampingku,
memapahku ke rumah sakit,
dan menemaniku hingga aku bisa tersenyum kembali.

Pak,
aku kangen saat kita menghabiskan kopi bersama,
dalam derai canda,
sampai keseriusan yang menegangkan suasana.
aku kangen saat engkau mengantarku dipagi buta hari senin,
selalu adaha yang kita obrolkan..
dari keluarga sampai negara..

Pak,
kau bagaikan pelangi dilangit yang satu warna,
kau bagaikan telaga di padang dahaga,
kau bagaikan rembulan dimalam yang gulita,
kau bagaikan matahari ditiap siangnya dunia,
kau bagaikan angin yang berhembus dalam gerah dunia,
kau bagaikan embun yang benih di pagi yang datang dengan indahnya,

Pak,
hari ini hari spesial buat kita,
tanpahari ini dan tanpamu aku tak akan terlahir didunia,
Selamat ulang Tahun Pak,
Sugeng Tanggap warsa..
semoga dalam mengalir, air selalu berdoa yang terbaik untukmu,
semoga dalam berhembus, angin mendoakan yang terhebat untukmu,
semoga dalam berkobar, api mendoakan yang terindah untukmu.
semoga dalam bersinar, matahari mendokan yang terbijaksana untukmu,

Pak,
dalam doaku selalu ada namamu,
semoga kau tetap bijaksana,
semoga kau tetap rendah hati apa adanya,
semoga kau tetap sabar menghadapi dunia,
dan semoga hal terbaik tercurah untukmu selamanya.

aku mencintaimu pak,
dengan segala cinta yang tak terungkap dengan kata-kata.
dengan segala melodi yang tak terdengar oleh telinga.

Depok, 27 April 2013

Comments

Popular posts from this blog

Ketua Angkatan Namanya

Jika kau pernah kuliah atau sekarang sedang kuliah, pasti kau tahu jabatan yang diberi nama “ketua angkatan” ini. memang sih jabatan ini tak setenar ketua BEM, Ketua DPM, atau Ketua lembaga lainnya. Jabatan ini hanya jabatan kultural yang tugas dan wewenangnya tidak tertulis dimanapun, tidak di AD/ART, Preambul, atau undang-undang IKM. akan tetapi jabatan ini akan sangat penting ketika sebuah angkatan mengadakan acara yang tidak punya panitia, atau ketika ada permasalahan yang terjadi. Jabatan yang tidak punya tugas dan wewenang secara tertulis ini menurut saya hanya sebatas abdi, kawulo yang bertugas melayani orang-orang diangkatannya. namanya juga jabatan kultural, ya nggak pernahlah disuruh ngasih sambutan atau tanda tangan seperti ketua lembaga. Tapi jika kita menengok tugas yang di emban oleh mereka yang tidak tertulis itu sangat berat (bagi yang mau mikir). Ya nggak berat gimana, ketua angkatan bertanggung jawab atas angkatannya, jika ada tugas angkatan dia, jika ada permasalah...

Demi Indonesia! : sebuah renungan

Desiran angin berusaha menghempas tubuh yang bagai kerangka berjalan ini, ia memang mampu mnggoyangkan rumput dan menerbangkan sampah yang ada, tapi tidak untuk tubuh ini, mungkin hanya baju yang menempel pada tubuh ini yang agak berkibas. Aku terus berjalan menyusuri jalan setapak menuju halte bis kuning yang berjarak sekitar 200 meter. Ya, seperti biasa hari ini aku pergi ke kampus untuk melanjutkan kewajibanku belajar.Tak perlu waktu lama untuk langkah kaki ini membawaku sampai ke halte. Aku duduk disamping anak kecil penjual koran, mungkin sudah menjadi pemandangan yang biasa diantara kita duduk anak kecil lusuh penjual koran atau tisu. Akan tetapi entah kenapa aku merasakan suatu hal yang berbeda sekarang ketika menatapnya, bayanganku kembali ke satu minggu yang lalu, ke sebuah acara besar yang digagas oleh BEM MIPA UI yaitu MUN (Mipa Untuk Negeri ) 2012, dan salah satu acaranya adalah KIMI ( konfernsi Ilmuwan Muda Indonesia) yang dihadiri oleh ratusan mahasiswa dari berbagai pe...

Bayang Malam

Bayang malam mulai menghakimiku, Ia merasuk dalam setiap jengkal gelap yang ditemukan, Entah dalam pendaran cahaya bintang, Hingga bilik-bilik hati yang kerontang. Aku menanjak dan melihat beringasnya, Mencengkram setiap lentera yang ada disudut-sudut nadi, Mencoba mencari jalan ke kerongkongan, unuk keluar sebagai hembusan, tidak, sebagai semburan api amarahnya, Namun, limbung raga tak mampu goyahkan jiwa, Ia masih tetap menari bersama nurani, berdansa mesra, Mengikuti melodi-melodi permai yang dari tadi terdendang, Manis, Di pojok taman yang yang tak terekam bayang. Aku tetap masih berdiri, bersiap menulis lagi pada kehidupan yang putih, seperti sikap lembar putih tadi pagi, ia tetap putih, bersih, sebersih daun yang terbasuh embun pagi..