Skip to main content

Marah Sang Angin

angin tiba - tiba mengamuk dan membuat gelisah
langit menangis pelan tanpa sesunggukan
membiarkan hampa yang tertinggal di malam yang bising
oleh dedaunan yang kaget dimarahi angin.


semua melela dalam gelap malam yang fana
jangkrik pun tak berani menggesekkan sayapnya untuk mengusir dingin
ia merunduk malu-malu di lubang rumahnya
dengan menggigil tanpa ada teman disampingnya.

wajah bumi mulai memerah padam.
melihat angin marah.
menggiring awan berbondong-bondong.
pergi sambil menitikkan tangisan-tangisan kecil ke bumi.

gemintang tak lagi mau menampakkan wajahnya
ia tahu
angin sedang mengamuk,
ia tak mau terlempar ke tempat yang lebih tinggi lagi
karena masih banyak hati yang butuh hiburan darinya dimalam-malam berikutnya.

depok, 19 Maret 2012.

gambar dari : http://2.bp.blogspot.com/_laTn2RiJaiA/TRl8NGXuVOI/AAAAAAAAAMs/Jmkw78a8hQw/s1600/index.jpg

Comments

Popular posts from this blog

Betapa Welasnya Gusti Allah

Akhir-akhir ini saya merasa muak melihat twitter dan facebook yang kebanyakan membicarakan kasus korupsi yang disebut fitnah lah, konspirasi lah, ketahuan belangnya lah, dal lain sebagainya, banyak sekali pro kontra yang terjadi, Terlapas dari saya yang memang nggak suka sama sekali terhadap partai-partai politik yang sok suci  dan membela rakyat tapi akhir-akhirnya "ngadali" rakyat juga, yang sangat saya sayangkan adalah akhir-akhir ini semakin marak agama diperjualbelikan dan semakin marak nama Tuhan dijadikan alat jualan supaya dagangannya laku keras. Tapi dalam tulisan ini saya tidak akan membahas tentang brengseknya beberapa oknum yang jualan atas nama Agama dan Tuhan, tapi saya ingin lebih membahas betapa pemurahnya Tuhan terhadap makhluk-Nya yang paling brengsek dan paling keji sekalipun. Ide tulisan ini saya dapat ketika saya kembali membaca kitab ta'limul muta'alim yang sudah berdebu diatas lemari karena sok sibuknya saya sampai malas membacanya. setelah s

Ketua Angkatan Namanya

Jika kau pernah kuliah atau sekarang sedang kuliah, pasti kau tahu jabatan yang diberi nama “ketua angkatan” ini. memang sih jabatan ini tak setenar ketua BEM, Ketua DPM, atau Ketua lembaga lainnya. Jabatan ini hanya jabatan kultural yang tugas dan wewenangnya tidak tertulis dimanapun, tidak di AD/ART, Preambul, atau undang-undang IKM. akan tetapi jabatan ini akan sangat penting ketika sebuah angkatan mengadakan acara yang tidak punya panitia, atau ketika ada permasalahan yang terjadi. Jabatan yang tidak punya tugas dan wewenang secara tertulis ini menurut saya hanya sebatas abdi, kawulo yang bertugas melayani orang-orang diangkatannya. namanya juga jabatan kultural, ya nggak pernahlah disuruh ngasih sambutan atau tanda tangan seperti ketua lembaga. Tapi jika kita menengok tugas yang di emban oleh mereka yang tidak tertulis itu sangat berat (bagi yang mau mikir). Ya nggak berat gimana, ketua angkatan bertanggung jawab atas angkatannya, jika ada tugas angkatan dia, jika ada permasalah

Tuhan, akulah sang pendosa

Tuhan, dalam ku termenung, aku melihat cahaya tertutup mendung. Terbingkai kabut, dan terlihat tarian rintik hujan membasahi bumiMu yang kerontang.