Skip to main content

Hujan dan Secangkir Coklat Panas

Rasanya sudah lama tidak menikmati hujan sedamai sore ini, entah karena aku yang terlalu sibuk,atau memang tak pernah mau menikmatinya. Berteman secangkir coklat panas sore ini aku duduk diteras kos menikmati rintik demi rintik air yang turun.
Rasanya hujan selalu menjadi peneduh dikala hati sedang kepanasan oleh terik suasana yang melumat segala ketenangan dihati. Karena kadang kita lupa untuk selalu belajar dan mengambil pelajaran dari apa yang kita lihat. Hujan sore ini tak begitu deras, tapi cukup untuk membuat bau debu memyengat dihidung. Maklum, Depok sudah lama tidak disirami.hujan.
Berteman.secangkir coklat panas,aku coba merenungbmengbil pelajaran dari hujan. Hujan kadang datang dengan pertanda mendung,tapi kadang kadang juga tiba-toba saja turun. Ya seperti kesedihan yang kita rasakan. Kadang dengan sebab, kadang juga tidak. Tapi itu yang terlihat oleh kasat mata. Karena sebenarnya hujan dan perasaan sama sama mempunyai sebab,entah terlihat atau tidak, hal ini terjadi karena keterbatasan mata kita atau hati kita. Ketajaman pengetahuanlah yang meyakinkan kita bahwa hujan pasti dari mendung begitu juga seperti kesedihan, ketajaman hati kitalah yang meyakinkan kita bahwa ada kesalahan yang kita perbuat sehingga hati kita sedih. Walaupun kadang kita lupa kesalahan itu kapan kita perbuat.
Setiap manusia pasti mempunyai salah, karena memang  itu sifat kodratiyahnya. Jadi tak perlu berkecil hati dengan salah, karena kita punya Tuhan yang maha pengasih lagi maha penyayang. Tapi hal itu juga tidak bisa kita jadikan alasan untuk selalu berbuat salah.
Kembali kepada Hujan, sebagian orang mengatakan bahwa hujan itu rahmat,berkah, dan nikmat. Apalagi kalau habis musim kemarau berkepanjangan. Tapi kadang bisa juga menjadi bencana, seperti banjir dan lainnya. Ya begitulah dalam hidup, kadang rahmat bisa jadi musibah jika kita tidak mensyukurinya dan salah memperlakukannya.
Lalu segelas coklat panas yang menghangatkan dan menenangkan. Dia layaknya orang tua yang selalu ada untuk kita, tak peduli dia habis, yang penting orang yang meminumnya merasakan kedamaian yang tak terkira. Begitu juga orang tua kita,tak peduli mereka babak belur seperti apa,yang penting anak mereka,buah hati mereka bahagia.
Akhirnya kita akan bertanya pada diri kita. Lebih mulia siapa kita dengan hujan dan secangkir coklat panas ini? Jawaban akan selalu kembali kepada hati kita. Selamat sore Depok, selamat menikmati hujan yang lama kau tunggu. Mari kembali menikmati.secangkir coklat panas ini.

Depok, 15 Oktober 2014

Popular posts from this blog

Ketua Angkatan Namanya

Jika kau pernah kuliah atau sekarang sedang kuliah, pasti kau tahu jabatan yang diberi nama “ketua angkatan” ini. memang sih jabatan ini tak setenar ketua BEM, Ketua DPM, atau Ketua lembaga lainnya. Jabatan ini hanya jabatan kultural yang tugas dan wewenangnya tidak tertulis dimanapun, tidak di AD/ART, Preambul, atau undang-undang IKM. akan tetapi jabatan ini akan sangat penting ketika sebuah angkatan mengadakan acara yang tidak punya panitia, atau ketika ada permasalahan yang terjadi. Jabatan yang tidak punya tugas dan wewenang secara tertulis ini menurut saya hanya sebatas abdi, kawulo yang bertugas melayani orang-orang diangkatannya. namanya juga jabatan kultural, ya nggak pernahlah disuruh ngasih sambutan atau tanda tangan seperti ketua lembaga. Tapi jika kita menengok tugas yang di emban oleh mereka yang tidak tertulis itu sangat berat (bagi yang mau mikir). Ya nggak berat gimana, ketua angkatan bertanggung jawab atas angkatannya, jika ada tugas angkatan dia, jika ada permasalah...

Demi Indonesia! : sebuah renungan

Desiran angin berusaha menghempas tubuh yang bagai kerangka berjalan ini, ia memang mampu mnggoyangkan rumput dan menerbangkan sampah yang ada, tapi tidak untuk tubuh ini, mungkin hanya baju yang menempel pada tubuh ini yang agak berkibas. Aku terus berjalan menyusuri jalan setapak menuju halte bis kuning yang berjarak sekitar 200 meter. Ya, seperti biasa hari ini aku pergi ke kampus untuk melanjutkan kewajibanku belajar.Tak perlu waktu lama untuk langkah kaki ini membawaku sampai ke halte. Aku duduk disamping anak kecil penjual koran, mungkin sudah menjadi pemandangan yang biasa diantara kita duduk anak kecil lusuh penjual koran atau tisu. Akan tetapi entah kenapa aku merasakan suatu hal yang berbeda sekarang ketika menatapnya, bayanganku kembali ke satu minggu yang lalu, ke sebuah acara besar yang digagas oleh BEM MIPA UI yaitu MUN (Mipa Untuk Negeri ) 2012, dan salah satu acaranya adalah KIMI ( konfernsi Ilmuwan Muda Indonesia) yang dihadiri oleh ratusan mahasiswa dari berbagai pe...

Bayang Malam

Bayang malam mulai menghakimiku, Ia merasuk dalam setiap jengkal gelap yang ditemukan, Entah dalam pendaran cahaya bintang, Hingga bilik-bilik hati yang kerontang. Aku menanjak dan melihat beringasnya, Mencengkram setiap lentera yang ada disudut-sudut nadi, Mencoba mencari jalan ke kerongkongan, unuk keluar sebagai hembusan, tidak, sebagai semburan api amarahnya, Namun, limbung raga tak mampu goyahkan jiwa, Ia masih tetap menari bersama nurani, berdansa mesra, Mengikuti melodi-melodi permai yang dari tadi terdendang, Manis, Di pojok taman yang yang tak terekam bayang. Aku tetap masih berdiri, bersiap menulis lagi pada kehidupan yang putih, seperti sikap lembar putih tadi pagi, ia tetap putih, bersih, sebersih daun yang terbasuh embun pagi..