Skip to main content

Aku kangen kamu

Aku kangen kamu,
kangennya itu banyak banget,
seperti banyakanya buliran pasir yang kau injak sekarang dipadang arafah sana,
tak ada orang yang tau jumlahnya
atau mau menghitungnya,

aku kangen kamu,
kangennya itu seperti garis sejajar,
yang sampai kapanpun dan sampai manapun diperpanjang
tak akan ada yang nemu titik temunya,

aku kangen kamu,
kangennya itu kadang juga seperti garis berimpit,
yang nggak terlihat mana garis satu, mana garis dua
bener bener rekat sekali

aku kangen kamu,
kangennya itu kayak banyaknya bilangan real antara nol sampai satu,
bisa sih kadang dihitung,
tapi nggak akan selesai,

aku kangen kamu,
kanggnnya itu kayak senyummu yang tak pernah habis
memberi keramahan pada sekeliling,
dengan lekik pipi yang manis,

aku kangen kamu,
kangennya itu kayak jubah putih yang sekarang kamu gunakan, ,
menutup seluruh tubuhmu,
lalu keindahannya cuma kamu yang tahu,

aku kangen kamu,
kangennya itu warnanya itu seperti slayer orange
yang kau pakai saat berangkat subuh-subuh itu,
warnanya menyala
dan selalu melilit di lehermu sebagai penanda..

aku kangen kamu,
kangennya itu kayak udara,
bisa dirasakan,
tapi nggak bisa dilihat..

aku kangen kamu,
kangennya itu kayak hawa dingin wonosobo
yang sering kita rasakan bareng,
selalu membawa kebersamaan
dan saling membutuhkan,

aku kangen kamu,
kangennya itu kayak debat kusir tentang ayam
nggak pernah selesai,
sampai ada yang ngalah antara hati dan realita

aku kangen kamu,
kangennya itu kayak mau ujian belum belajar
rasanya deg-degan
nggak karuan panas dingin,

aku kangen kamu,
kangennya itu kayak orkestra,
suaranya beda-beda,
tapi enak didengar oleh telinga

aku kangen kamu,
kangennya itu kayak kopi tanpa gula
pahit,
tapi bener bener buat mata melek,

aku kangen kamu,
kangennya itu kayak melihat ka'bah yang sedang kau nikmati sekarang,
ada rasa haru,
ada rasa seneng
ada rasa berdosa
ada rasa bersyukur
ada rasa minder
ada rasa takjub
ada rasa sedih,
dan rasa-rasa yang lain yang dapat dirasa oleh para perasa.

intinya,
aku kangen kamu!
titik!

depok, 27 September 2013

Comments

Popular posts from this blog

Ketua Angkatan Namanya

Jika kau pernah kuliah atau sekarang sedang kuliah, pasti kau tahu jabatan yang diberi nama “ketua angkatan” ini. memang sih jabatan ini tak setenar ketua BEM, Ketua DPM, atau Ketua lembaga lainnya. Jabatan ini hanya jabatan kultural yang tugas dan wewenangnya tidak tertulis dimanapun, tidak di AD/ART, Preambul, atau undang-undang IKM. akan tetapi jabatan ini akan sangat penting ketika sebuah angkatan mengadakan acara yang tidak punya panitia, atau ketika ada permasalahan yang terjadi. Jabatan yang tidak punya tugas dan wewenang secara tertulis ini menurut saya hanya sebatas abdi, kawulo yang bertugas melayani orang-orang diangkatannya. namanya juga jabatan kultural, ya nggak pernahlah disuruh ngasih sambutan atau tanda tangan seperti ketua lembaga. Tapi jika kita menengok tugas yang di emban oleh mereka yang tidak tertulis itu sangat berat (bagi yang mau mikir). Ya nggak berat gimana, ketua angkatan bertanggung jawab atas angkatannya, jika ada tugas angkatan dia, jika ada permasalah...

Demi Indonesia! : sebuah renungan

Desiran angin berusaha menghempas tubuh yang bagai kerangka berjalan ini, ia memang mampu mnggoyangkan rumput dan menerbangkan sampah yang ada, tapi tidak untuk tubuh ini, mungkin hanya baju yang menempel pada tubuh ini yang agak berkibas. Aku terus berjalan menyusuri jalan setapak menuju halte bis kuning yang berjarak sekitar 200 meter. Ya, seperti biasa hari ini aku pergi ke kampus untuk melanjutkan kewajibanku belajar.Tak perlu waktu lama untuk langkah kaki ini membawaku sampai ke halte. Aku duduk disamping anak kecil penjual koran, mungkin sudah menjadi pemandangan yang biasa diantara kita duduk anak kecil lusuh penjual koran atau tisu. Akan tetapi entah kenapa aku merasakan suatu hal yang berbeda sekarang ketika menatapnya, bayanganku kembali ke satu minggu yang lalu, ke sebuah acara besar yang digagas oleh BEM MIPA UI yaitu MUN (Mipa Untuk Negeri ) 2012, dan salah satu acaranya adalah KIMI ( konfernsi Ilmuwan Muda Indonesia) yang dihadiri oleh ratusan mahasiswa dari berbagai pe...

Bayang Malam

Bayang malam mulai menghakimiku, Ia merasuk dalam setiap jengkal gelap yang ditemukan, Entah dalam pendaran cahaya bintang, Hingga bilik-bilik hati yang kerontang. Aku menanjak dan melihat beringasnya, Mencengkram setiap lentera yang ada disudut-sudut nadi, Mencoba mencari jalan ke kerongkongan, unuk keluar sebagai hembusan, tidak, sebagai semburan api amarahnya, Namun, limbung raga tak mampu goyahkan jiwa, Ia masih tetap menari bersama nurani, berdansa mesra, Mengikuti melodi-melodi permai yang dari tadi terdendang, Manis, Di pojok taman yang yang tak terekam bayang. Aku tetap masih berdiri, bersiap menulis lagi pada kehidupan yang putih, seperti sikap lembar putih tadi pagi, ia tetap putih, bersih, sebersih daun yang terbasuh embun pagi..