Skip to main content

Selamat (merenungi) Tahun Baru 2013

Selamat Tahun Baru Masehi 2013 Sobat. Ya, ditengah kesibukan koding matlab, aku ingin sedikit merenung dalam tulisan ini.

Tahun baru selalu menjadi ajang obral harapan dimana-mana, termasuk aku sendiri. segala harapan menjadi sangat ramai dalam hati masing-masing manusia. mengisi setiap ruang-ruang kosong yang ditinggalkan oleh harapan harapan yang gagal di tahun 2012. sebentik udara sepertinya telah membersihkan debu-debu dari ruang kosong itu untuk kembali dihuni.

Jika bebicara tentang harapan, pastilah semua bersifat positif. Pun begitu juga dengan harapanku. Harapan Mahasiswa matematika semester 5 akhir udah mau 6. harapan tentang akademis, mandiri secara ekonomi, keliling indonesia, khususnya lombok pada tahun ini semoga menjadi pembuka semangat untuk mencapainya.

Entah Tuhan sedang mengujiku atau menganugerahiku dengan semua ini, sebuah awal Tahun yang begitu semangat dan positif dalam pandangan. Cerah sekali langit terlihat walau tiap hari mencurahkan hujan. karena bukan mendung yang menghalangi kecerahan hari, tetapi hati yang redup yang membuat hari-hari seperti akan terjadi badai, mendung dan gelap.

Sebenarnya yang menjadi harapan paling besarku di tahun ini adalah selalu bisa berfikir postif dan istiqamah dengan pemikiran yang positif itu, supaya tetap optimis menjalani hari-hari dan mengusir mendung yang menutupinya.

Terlepas dari semua harapan dan angan-angan, ada baiknya kita melihat kaca spion sejenak atau sempatkan menengok kebelakang untuk sekedar mengambil pelajaran. Ya, dan kesimpulannya di 2012 masih banyak sekali kesalahan yang sama seperti tahun-tahun sebelumnya terulang.
dalam renunganku, aku selalu teringat puisi dari Gus Mus yang berjudul "Selamat Tahun Baru" yang mempunyai makna sangat dalam untuk mencambuk diri kita. Mari kita simak sejenak bait-bait puisi dari pengasuh pondok pesantren Rembang ini :

Selamat Tahun Baru

Kawan sudah tahun baru lagi
Belum juga tibakah saatnya kita menunduk memandang diri sendiri
Bercermin firman Tuhan,sebelum kita dihisabNya
Kawan siapakah kita ini sebenarnya?
Muslimkah,mukminin,muttaqin,
kholifah Alloh,umat Muhammadkah kita?
Khoirul ummatinkah kita?
Atau kita sama saja dengan makhluk lain atau bahkan lebih rendah lagi.
Hanya budak perut dan kelamin
Iman kita kepada Alloh dan yang ghaib Rasanya lebih tipis dari uang kertas ribuan Lebih pipih dari kain rok perempuan
Betapapun tersiksa ,kita khusyuk didepan masa
Dan tiba tiba buas dan binal disaat sendiri bersamaNya
Syahadat kita rasanya lebih buruk dari bunyi bedug,atau pernyataan setia pegawai rendahan saja.
Kosong tak berdaya.
Shalat kita rasanya lebih buruk dari senam ibu ibu
Lebih cepat dari pada menghirup kopi panas dan lebih ramai daripada lamunan 1000 anak pemuda.
Doa kita sesudahnya justru lebih serius Memohon enak hidup didunia dan bahagia disurga.
Puasa kita rasanya sekedar mengubah jadwal makan minum dan saat istiraht,tanpa menggeser acara buat syahwat,ketika datang rasa lapar atau haus,
Kita manggut manggut ..oh beginikah rasanya dan kita sudah merasa memikirkan saudara saudara kita yang melarat.
Zakat kita jauh lebih berat terasa dibanding tukang becak melepas penghasilanya untuk kupon undian yang sia sia,
Kalaupun terkeluarkan,harapanpun tanpa ukuran Upaya upaya Tuhan menggantinya lipat ganda.
Haji kita tak ubahnya tamasya menghibur diri,mencari pengalaman spiritual dan material,membuang uang kecil dan dosa besar
Lalu pulang membawa label suci Asli made in saudi "HAJI"
Kawan lalu bagaimana dan seberapa lama kita bersamaNya,
atau kita justru sibuk menjalankan tugas mengatur bumi seisinya,
mensiasati dunia khalifahnya,
Kawan tak terasa kita semakin pintar,mungkin kedudukan kita sebagai khalifah mempercepat proses kematangan kita paling tidak kita semakin pintar berdalih,
kita perkosa alam dan lingkungan demi ilmu pengetahuan,
kita berkelahi demi menegakkan kebenaran,mengacau dan menipu demi keselamatan,
memukul,mencaci demi pendidikan,
Berbuat semaunya demi kemerdekaan
Tidak berbuat apa apa demi ketentraman
Membiarkan kemungkaran demi kedamaian Pendek kata demi semua yang baik halallah sampai yang tidak baik.
Lalu bagaimana para cendekiawan,seniman,mubaligh dan kiai sebagai penyambung lidah nabi.
Jangan ganggu mereka
Para cendekiawan sedang memikirkan segalanya
Para seniman sedang merenungkan apa saja
Para mubaligh sedang sibuk berteriak kemana mana
Para kiai sibuk berfatwa dan berdoa
Para pemimpin sedang mengatur semuanya
Biarkan mereka diatas sana
menikmati dan meratapi nasib dan persoalan mereka sendiri.

Jika kita baca dengan seksama sajak-sajak diatas, lalu kita resapi maknanya, rasanya aku tak perlu lagi menambahkan kata-kata dalam renungan ini.

Mari kita pejamkan sejenak, dan renungkan apa yng telah kita lakukan selama ini dan apa yang akan menjadi harapan kita, berkacalah dan apa yang perlu kita dandani.

Selamat Tahun Baru 2013 Sobat, semoga tahun ini kita semakin menyadari diri kita sebagai hamba yang lemah dan tetap butuh pertolongan Tuhan. Aamiin. :)

Depok, 1 Januari 2013

Comments

Popular posts from this blog

Ketua Angkatan Namanya

Jika kau pernah kuliah atau sekarang sedang kuliah, pasti kau tahu jabatan yang diberi nama “ketua angkatan” ini. memang sih jabatan ini tak setenar ketua BEM, Ketua DPM, atau Ketua lembaga lainnya. Jabatan ini hanya jabatan kultural yang tugas dan wewenangnya tidak tertulis dimanapun, tidak di AD/ART, Preambul, atau undang-undang IKM. akan tetapi jabatan ini akan sangat penting ketika sebuah angkatan mengadakan acara yang tidak punya panitia, atau ketika ada permasalahan yang terjadi. Jabatan yang tidak punya tugas dan wewenang secara tertulis ini menurut saya hanya sebatas abdi, kawulo yang bertugas melayani orang-orang diangkatannya. namanya juga jabatan kultural, ya nggak pernahlah disuruh ngasih sambutan atau tanda tangan seperti ketua lembaga. Tapi jika kita menengok tugas yang di emban oleh mereka yang tidak tertulis itu sangat berat (bagi yang mau mikir). Ya nggak berat gimana, ketua angkatan bertanggung jawab atas angkatannya, jika ada tugas angkatan dia, jika ada permasalah...

Demi Indonesia! : sebuah renungan

Desiran angin berusaha menghempas tubuh yang bagai kerangka berjalan ini, ia memang mampu mnggoyangkan rumput dan menerbangkan sampah yang ada, tapi tidak untuk tubuh ini, mungkin hanya baju yang menempel pada tubuh ini yang agak berkibas. Aku terus berjalan menyusuri jalan setapak menuju halte bis kuning yang berjarak sekitar 200 meter. Ya, seperti biasa hari ini aku pergi ke kampus untuk melanjutkan kewajibanku belajar.Tak perlu waktu lama untuk langkah kaki ini membawaku sampai ke halte. Aku duduk disamping anak kecil penjual koran, mungkin sudah menjadi pemandangan yang biasa diantara kita duduk anak kecil lusuh penjual koran atau tisu. Akan tetapi entah kenapa aku merasakan suatu hal yang berbeda sekarang ketika menatapnya, bayanganku kembali ke satu minggu yang lalu, ke sebuah acara besar yang digagas oleh BEM MIPA UI yaitu MUN (Mipa Untuk Negeri ) 2012, dan salah satu acaranya adalah KIMI ( konfernsi Ilmuwan Muda Indonesia) yang dihadiri oleh ratusan mahasiswa dari berbagai pe...

Bayang Malam

Bayang malam mulai menghakimiku, Ia merasuk dalam setiap jengkal gelap yang ditemukan, Entah dalam pendaran cahaya bintang, Hingga bilik-bilik hati yang kerontang. Aku menanjak dan melihat beringasnya, Mencengkram setiap lentera yang ada disudut-sudut nadi, Mencoba mencari jalan ke kerongkongan, unuk keluar sebagai hembusan, tidak, sebagai semburan api amarahnya, Namun, limbung raga tak mampu goyahkan jiwa, Ia masih tetap menari bersama nurani, berdansa mesra, Mengikuti melodi-melodi permai yang dari tadi terdendang, Manis, Di pojok taman yang yang tak terekam bayang. Aku tetap masih berdiri, bersiap menulis lagi pada kehidupan yang putih, seperti sikap lembar putih tadi pagi, ia tetap putih, bersih, sebersih daun yang terbasuh embun pagi..