Skip to main content

antara gelas dan cara meminumnya

  akhir-akhir ini, lebih tepatnya selama masa kuliah ini ada banyak hal baru yang aku alalmi dan banyak bertemu orang-orang yang diceritakan oleh Romo Kiayi dan para ustadz dulu waktu di pesantren, Dulu kiayiku pernah berkata "wong seng mung jukuk dalil mung seko qur'an hadist tanpo ngerti ngelmu tafsir, nahwu, lan sak panunggalane sek mbahas iku, ibarat koyo wong ngumbe seko galon tanpo gelas, langsung diglogok" artinya dalam bahasa indonesia kurang lebihnya begini : " orang yang cuma mengambil dalil dari Al Qur'an dan Hadits tanpa tahu ilmu tafsir, nahwu, shorof dan lain2 yang berhubungan dan menjadi pra syarat untuk para mufassir, ibarat orang yang minum air dari galon, langsung diminum, tanpa pakai gelas dulu."


maksud dari kata-kata itu yaitu kebanyakan orang sekarang itu islamnya secara instan, mereka hanya belajar kulitnya saja, berdalilkan atau berlandaskan dengan al Qur'an dan hadits saja, sebenernya gak ada yang salah sih ketika kita berlandaskan Al Qur'an dan hadits, malah itu yang dianjurkan, tapi yang sangat disayangkan, banyak yang hanya belajar terjemahannya saja tanpa tahu cara menerjemahkannya, tanpa tahu asbabun nuzul dan asbabul 'urutnya, tanpa tahu susunan kata-katanya, tanpa tahu ilmu tata bahasanya, padahal kita tahu bahwa Al Qur'an dan hadits itu bersifat universal bahasanya, dan sangat mengandung kiasan, juga sangat padat maknanya, lha kalau kita cuma melihat ayatnya atau hadistnya saja apalagi cuma terjemahannya saja apakah tidak takut adanya subjektivitas kita? yang lebih parah lagi kebanyakan dari kita sekarang malah cuma copy paste saja dari internet atau buku yang sumbernya belum jelas kebenarannya.

maka dari itu sangatlah penting kita belajar ilmu alat (nahwu, shorof, dll) untuk bisa lebih bijak menanggapi suatu hadits atau tafsiran hadits atau bahkan Ayat Al Qur'an. dan juga dalam belajar agama kita harus mempunyai guru yang sanadnya jelas, karena tanpa guru kita mudah sekali disesatkan oleh syetan atau logika kita sendiri, seperti yang di ungkapakan sayyidina "ali dalam salah satu syairnya di kitab alala, salah satu dari enam syarat hasilnya sebuah ilmu itu adalah adanya guru yang membimbing dan mengajari kita. Nah, guru yang jalas sanadnya itu yang bagaimana, guru yang jelas sanadnya itu maksudnya guru yang belajar dari guru ini, guru ini belajar dari guru itu, dan seterusnya sampai ke tabi'it tabi'in, tabi'in, shahabat, dan sampai bermuara pada Rosululloh SAW. itu maksudnya, jadi tidak hanya baca dari buku terjemahan atau dari internet saja tanpa tau yang menulis itu siapa dan membatasi logika-logika liar kita untuk menafsirkannya. sehingga ada yang mempertanggung jawabkan keabsahan 'ilmunya. malah-malah udah ngomong panjang lebar tentang sebuah ayat Al Qur'an atau Hadits,ketika ditanya, secara kajian nahwu shorof nya gimna? dengan polos dijawab ilmu nahwu itu apa?? sangat miris sekali rasanya, kita baca terjemahan tanpa ada guru dan tanpa tahu ilmu untuk menerjemahkannya. apalagi ilmu untuk menafsirkannya, padahal kita tahu satu kata dalam bahasa arab saja bisa menjadi banyak bentuk dan berbeda semua maknanya, jadi bagaimana kita mau mengartikan, batangan kalimatnya saja kita tidak tahu. sebuah taqlid buta harus milih-milih juga kali, yang ada gurunya, yang bisa dipertanggung jawbkan, bukan cuma mengutip saja,hahaha

Jadi yang bisa saya simpulkan dari kata-kata kiayi ku itu yaitu : ilmu nahwu,ilmu tafsir, ilmu shorof,dll itu ibarat gelasnya, dan Al Qur'an Hadits itu ibarat Galonnya, kalau kita mau minum dari Galon, maka kita menggunakan gelas supaya mudah, susahkan kalau minum langsung dari galon? hehehe dan guru ibarat yang menyediakan gelas dan menjamin gelas itu bersih. :)

Comments

  1. makasih ilmunya mas.. :)

    berkawan dengan saya ya, jangan lupa kunjungi dan follow blog saya http://kampungkaryakita.blogspot.com/. Saya sudah memfollow blog ini.. Sukses :)

    ReplyDelete
  2. maaf baru bisa ol,hehehe
    makasih buat @kampung karya dan @mine and me, kita sudah berkawan, sudah saya follow semua :)
    salam kenal...

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Ketua Angkatan Namanya

Jika kau pernah kuliah atau sekarang sedang kuliah, pasti kau tahu jabatan yang diberi nama “ketua angkatan” ini. memang sih jabatan ini tak setenar ketua BEM, Ketua DPM, atau Ketua lembaga lainnya. Jabatan ini hanya jabatan kultural yang tugas dan wewenangnya tidak tertulis dimanapun, tidak di AD/ART, Preambul, atau undang-undang IKM. akan tetapi jabatan ini akan sangat penting ketika sebuah angkatan mengadakan acara yang tidak punya panitia, atau ketika ada permasalahan yang terjadi. Jabatan yang tidak punya tugas dan wewenang secara tertulis ini menurut saya hanya sebatas abdi, kawulo yang bertugas melayani orang-orang diangkatannya. namanya juga jabatan kultural, ya nggak pernahlah disuruh ngasih sambutan atau tanda tangan seperti ketua lembaga. Tapi jika kita menengok tugas yang di emban oleh mereka yang tidak tertulis itu sangat berat (bagi yang mau mikir). Ya nggak berat gimana, ketua angkatan bertanggung jawab atas angkatannya, jika ada tugas angkatan dia, jika ada permasalah...

Demi Indonesia! : sebuah renungan

Desiran angin berusaha menghempas tubuh yang bagai kerangka berjalan ini, ia memang mampu mnggoyangkan rumput dan menerbangkan sampah yang ada, tapi tidak untuk tubuh ini, mungkin hanya baju yang menempel pada tubuh ini yang agak berkibas. Aku terus berjalan menyusuri jalan setapak menuju halte bis kuning yang berjarak sekitar 200 meter. Ya, seperti biasa hari ini aku pergi ke kampus untuk melanjutkan kewajibanku belajar.Tak perlu waktu lama untuk langkah kaki ini membawaku sampai ke halte. Aku duduk disamping anak kecil penjual koran, mungkin sudah menjadi pemandangan yang biasa diantara kita duduk anak kecil lusuh penjual koran atau tisu. Akan tetapi entah kenapa aku merasakan suatu hal yang berbeda sekarang ketika menatapnya, bayanganku kembali ke satu minggu yang lalu, ke sebuah acara besar yang digagas oleh BEM MIPA UI yaitu MUN (Mipa Untuk Negeri ) 2012, dan salah satu acaranya adalah KIMI ( konfernsi Ilmuwan Muda Indonesia) yang dihadiri oleh ratusan mahasiswa dari berbagai pe...

Bayang Malam

Bayang malam mulai menghakimiku, Ia merasuk dalam setiap jengkal gelap yang ditemukan, Entah dalam pendaran cahaya bintang, Hingga bilik-bilik hati yang kerontang. Aku menanjak dan melihat beringasnya, Mencengkram setiap lentera yang ada disudut-sudut nadi, Mencoba mencari jalan ke kerongkongan, unuk keluar sebagai hembusan, tidak, sebagai semburan api amarahnya, Namun, limbung raga tak mampu goyahkan jiwa, Ia masih tetap menari bersama nurani, berdansa mesra, Mengikuti melodi-melodi permai yang dari tadi terdendang, Manis, Di pojok taman yang yang tak terekam bayang. Aku tetap masih berdiri, bersiap menulis lagi pada kehidupan yang putih, seperti sikap lembar putih tadi pagi, ia tetap putih, bersih, sebersih daun yang terbasuh embun pagi..