Skip to main content

Surat untuk Cholilullah

Assalamu'alaikum hati yang tenang,

kaifal khaluk ya Cholilulloh?

lama mungkin aku yang munafik dan rendah ini tak menyapa engkau, terlalu banyak urusan dunia yang membuatku, hamba sahaya ini lupa untuk menyapamu walau hanya dalam bentuk wirid. kiriman fatihah-fatiha juga semua tawassul yang dulu diajarkan oleh pecintamu yang sejati telah terkikis oleh lingkungan dan arogansi yang tak terbendung lagi dalam hati lemah yang ku punya ini.

Sudah sangat lama sepertinya, hingga hatiku benar-benar gersang dan tak dapat merasa peka, dan sudah terlalu banyak sepertinya maksiat menutup kejernihan hati, titik itu tak lagi kecil, titik hitam itu sudah berubah jadi kerak yang keras dalam hati ini, wahai kekasih Allah. aku seperti tak kenal waktu lagi. loncat sana loncat sini, logika sana logika sini, mikir itu mikir ini, sudah layaknya filsuf gagal berlogika saja. ah, malu aku sebenarnya menulis surat ini.

tak hanya itu, aku juga sering pusing sekarang, karena kepalaku sudah mengurangi sujud kepada Tuhan kita yang maha agung, sepertinya aku lupa hakikat kita diciptakan didunia ini. aku tadinya cemas dan takutbukan main saat kau dulu tak pernah datang kemimpiku, memberi nasihat dan wejangan tentang makna Tuhan, makna Hamba, Makna semesta dan makna-makna yang lain. tapi entah kenapa aku sekarang sudah mulai terbiasa. aku mulai tidak rindu padamu, dan malam ini, kekasih dan juga Tuhanmu mengingatkanku pada saat aku dalam titik terbawah keputus asaan dan menyadari tak ada kekuatan apapun dan kehebatan apapun dalam diriku.

Wahai kekasih Allah, aku sadar aku bersalah padamu, sudah melupakanmu dan melupakan tuhanmu dalam setiap wiridku, bukan lagi ilallah minallah yang terhembus dari nafasku, tapi sudah berganti menjadi iladdunya minaddunya. aku sadar 100%, aku sadar benar tentang hal itu, tapi anehnya aku menikmatinya dan malah ketagihan. sekarang saat semua dunia menjeratku, baru aku sadar bahwa dunya memang tipu muslihat paling nyata yang ada didepan mata.

bukan kepalaku saja yang sering pusing, tapi hatiku juga sudah mulai hambar, aku tak pernah peka terhadap kematian, aku tak pernah peka terhadap ketenangan, aku tak pernah peka terhadap kemanusian, yang aku peka hanyalah dunia dan maksiat. mulut dan bibir menuntunku pada apa yang sering aku ucapkan. aku misuh pada diriku, aku misuh pada alam semesta. saat aku mendewakan akalku, aku mulai sadar bahwa akalku sebenarnya tak bisa apa-apa.

Wahai kekasih Allah, surat ini aku tulis untuk menyampaikan maafku atas arogansi hatiku, atas kesombongan hidupku dan atas dangkalnya fikirku, semoga engkau berkenan memohonkan ampun bagiku kepada kekasihmu yang agung, semoga engkau berkenan mendoakanku supaya Kesihmu yang maha lembut itu masih mengasihiku. karena aku malu, sangaat malu untuk meminta ampun langsung keada-Nya, karena lumuran dosa dan maksiat ini sudah seperti lumuran lumpur yang menyelimuti badanku.

Maafkan kelancanganku ini..
Semoga Allah tetap menempatkanmu pada tempat kekasih yang utama

Wassalamualaikum Warahmatullohi wa barokatuh.


Depok, 21 Mei 2014
pecintamu yang sempat melupakanmu.

Comments

Popular posts from this blog

Ketua Angkatan Namanya

Jika kau pernah kuliah atau sekarang sedang kuliah, pasti kau tahu jabatan yang diberi nama “ketua angkatan” ini. memang sih jabatan ini tak setenar ketua BEM, Ketua DPM, atau Ketua lembaga lainnya. Jabatan ini hanya jabatan kultural yang tugas dan wewenangnya tidak tertulis dimanapun, tidak di AD/ART, Preambul, atau undang-undang IKM. akan tetapi jabatan ini akan sangat penting ketika sebuah angkatan mengadakan acara yang tidak punya panitia, atau ketika ada permasalahan yang terjadi. Jabatan yang tidak punya tugas dan wewenang secara tertulis ini menurut saya hanya sebatas abdi, kawulo yang bertugas melayani orang-orang diangkatannya. namanya juga jabatan kultural, ya nggak pernahlah disuruh ngasih sambutan atau tanda tangan seperti ketua lembaga. Tapi jika kita menengok tugas yang di emban oleh mereka yang tidak tertulis itu sangat berat (bagi yang mau mikir). Ya nggak berat gimana, ketua angkatan bertanggung jawab atas angkatannya, jika ada tugas angkatan dia, jika ada permasalah...

Demi Indonesia! : sebuah renungan

Desiran angin berusaha menghempas tubuh yang bagai kerangka berjalan ini, ia memang mampu mnggoyangkan rumput dan menerbangkan sampah yang ada, tapi tidak untuk tubuh ini, mungkin hanya baju yang menempel pada tubuh ini yang agak berkibas. Aku terus berjalan menyusuri jalan setapak menuju halte bis kuning yang berjarak sekitar 200 meter. Ya, seperti biasa hari ini aku pergi ke kampus untuk melanjutkan kewajibanku belajar.Tak perlu waktu lama untuk langkah kaki ini membawaku sampai ke halte. Aku duduk disamping anak kecil penjual koran, mungkin sudah menjadi pemandangan yang biasa diantara kita duduk anak kecil lusuh penjual koran atau tisu. Akan tetapi entah kenapa aku merasakan suatu hal yang berbeda sekarang ketika menatapnya, bayanganku kembali ke satu minggu yang lalu, ke sebuah acara besar yang digagas oleh BEM MIPA UI yaitu MUN (Mipa Untuk Negeri ) 2012, dan salah satu acaranya adalah KIMI ( konfernsi Ilmuwan Muda Indonesia) yang dihadiri oleh ratusan mahasiswa dari berbagai pe...

Bayang Malam

Bayang malam mulai menghakimiku, Ia merasuk dalam setiap jengkal gelap yang ditemukan, Entah dalam pendaran cahaya bintang, Hingga bilik-bilik hati yang kerontang. Aku menanjak dan melihat beringasnya, Mencengkram setiap lentera yang ada disudut-sudut nadi, Mencoba mencari jalan ke kerongkongan, unuk keluar sebagai hembusan, tidak, sebagai semburan api amarahnya, Namun, limbung raga tak mampu goyahkan jiwa, Ia masih tetap menari bersama nurani, berdansa mesra, Mengikuti melodi-melodi permai yang dari tadi terdendang, Manis, Di pojok taman yang yang tak terekam bayang. Aku tetap masih berdiri, bersiap menulis lagi pada kehidupan yang putih, seperti sikap lembar putih tadi pagi, ia tetap putih, bersih, sebersih daun yang terbasuh embun pagi..