Skip to main content

Posts

Kopi yang hambar

Secangkir kopi siang ini terlalu hambar, tak seperti biasanya kental dan menenangkan. Aku memang menyeduhnya sambil melamun, sehingga terlalu banya air yang masuk kedalam cangkir kopiku. Ah, mau ku tambahi kopi dan gula juga tak akan se-enak takaran awal yang memang sudah pas. mungkin itu juga yang sekarang sedang terjadi di Negeri gemah ripah loh jinawi ini. semuanya serba terlanjur, Pak Ahok terlanjur ngomong, MUI terlanjur memberikan Fatwa, Buni Yani terlanjur memposting potongan video, Media terlanjur memblow up bsar besaran, "umat islam" ada yang terlanjur mencak mencak, ada juga yang terlanjur membela, tokoh-tokoh masyarakat dan tokoh agama terlanjur mengeluarkan statement. Akhirnya negeri ini terasa hambar, ditambahi apa saja dengan ramuan apa saja juga tak akan seharmonis awal dulu. Biasanya keterlanjuran menyeduh kopi yang menjadi hambar ini memang akhirnya bisa dinikmati mantan pecinta kopi yang sekarang sudah pensiun minum kopi dengan kadar pecinta, yaitu mereka ...

Dua Cahaya Purnama

Pada malam purnama bulan ke sebelas, aku melihatnya lebih dari satu bayangan bulat bulan, yang kata orang merupakan pantulan cahaya. malam ini, cahayanya tak meredup tak juga pendar dalam persimpangan bulan yang tak kunjung berdamai lalu apa sabda nabi yang hari lalu di ingatkan padaku tengah bermakna? mendamaikan dua cahaya kuat yang ada pada bilik hati dan akal. sempat rindu ini menderu pada yang Penguasa Purnama. yang jua meniupkan angin mengarak awan menutupinya hingga berbias menjadi dua cahaya. sempat ku pikir ini adalah sendu atah hanya sekedar gurau-Mu Tuhan? menyungging senyum padaku makhluk tak berdaya diantara dua cahaya purnama. Depok, 19-8-2016

Hati dan Batu

perlahan dan sangat pelan, desir angin mengintai dari relung jauh membisikkan kata-kata magis yang masih sunyi sayu, tak mau ku dengar walau rindu geliat nadi yang sesekali membesar hanya membuatku melepaskan sedikit saja aku tak pernah melibatkan akar untuk memperkuat batang sekarang, sedikit sekali candu yang ku tahu hanya bakaran dan setanggak itu pun kalau aku mau dan tak takut rindu melayanglah pada sanubari biarkan bulu lentik alis mengikis aku sembari menggoda akan tetap setia pada nestapa. Depok, 8 Agustus 2016

Mari bermimpi (lagi)

Mengejar mimpi adalah hal yang sangat menyenangkan. kita berusaha sekuat tenaga, optimis, dan berani mengambil resiko untuk mencapai mimpi kita. akan tetapi ada hal yang kadang terlupa oleh kita para pemimpi, bahwa dalam fase  mengejar mimpi akan ada saat saat membosankan dan menjengkelkan. Membosankan saat kita tak tahu harus bagaimana lagi melangah, dan menjengkelkan adalah saat kita sudah tau apa yang ahrus kita lakukan, akan tetapi kita tidak dapat melakukannya karena beberapa alasan. Pada saat seperti itu, coba mulailah untuk menenangkan diri dan berfikir lebih jernih tentang hidupmu, tentang bagaimana kau akan menghadapinya esok hari. Tenggelamkan dirimu pada alam fikirmu, biarkan ia menuntunmu pada kedamaian berfikir yang selama ini mungkin kau idam-idamkan. Dalam gemerlap dunia yang udah mulai mencari mencari mangsa orang-orang yang tak bertanggung jawabb akan mimpinya ini, kita memang harus mulai menyingsingkan baju dan mengencangkan ikat pinggang untuk terus menatap a...

Gemintang Assyura.

Aku merasa melihat gemintang turun di assyura', Mengapit bulan yang hanya setengah Mereka turun mewarnai kesyahduan cakap Antara ilalang dan angin yang saling mengisi satu sama lain Walau kadang terkikis karena bergesekan. Rindu yang meliputi pada sabit sampai purnama Tak pernah terbayar oleh perut bedug Yang selalu lapar Oleh syahwat keduniawian. Aku kadang merasa rerumputan mengingatkanku Tapi aku berusaha melemahkannya. Karena yang aku tahu Dahaga ini nyata Dunia tak terlihat fana Seperti yang terkata dalam kalam kalam pemuas dahaga. Ah, mungkin aku saja yang sedang lupa Berada pada galian lubang kubur sendiri Tanpa sadar. Atau mungkin dengan sangat sadar Hingga menjadi kebiasaan. Batinku. Berdoa Bersama gemintang dimalam assyura. Depok, Muharam 1347 H

Sedang Lupa

Tuhan, Mungkin aku sedang lupa cara berdoa, Sampai sampai apa yang aku mau Penuh sesak di dalam dada Memaksa suara rintihan ini keluar Menahan sakitnya Tuhan, Mungkin aku sedang lupa cara bersujud, Sampai sampai apa yang aku fikirkan Menumpuk di kepala Sampai memaksa air mata keluar Menahan peningnya Tuhan, Mungkin aku lupa cara bersyukur, Sampai sampai apa yang akan aku jalani Jadi memberatkan lutut kaki Sampai gemetar hebat Dan mulut tak berhenti ikut gemetar Menahan jeritan yang ingin keluar darinya Tuhan, Mungkin aku lupa cara meyembah, Sampai sampai aku lelah menuhankan diriku sendiri Semua kalimat membanggakan itu Begitu mudah keluar dari alam bawah sadarku Tuhan, Aku sedang lupa, Maafkan aku, Dan ingatkan aku, Sebelum subuh datang menyingsing. Depok, 10-9-2015